Breaking News
YouGep Reloads All Operator Pulsa

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 17 August 2015

Cerpen Moral Sosial - Apa Salahku Ibu ?

Cerpen moral, sosial, renungan perempuan, anak muda


Saat ini Aku gembira sekali, Aku berada ditempat yang hangat dan nyaman walaupun gelap.

Tapi ah.. Itu tidak masalah, Aku tetap gembira sekali, Tuhan telah memilihkan tempat ini untukku.

Aku Bisa merasakan Ibu tersenyum,

mendengarkan suara Ibu yang lembut.

Tapi Bu, kenapa beberapa hari ini Ibu menangis..?

Malam ini Aku juga mendengar Ibu menangis, bahkan ketika tangisanmu semakin menjadi, tiba tiba Ibu memukulku, yang masih ada dalam perut Ibu. Aku Kaget sekali Bu.. Aku ingin sekali memelukmu dan bertanya kepadamu,

kenapa Ibu bersedih..?

Siapa yang telah membuat Ibu menangis..?

Tapi Ibu terus memukulku.. sakiiiit Bu..

Ibu.. Aku ingin bertanya, kenapa hari ini Ibu mencaci maki Aku..?

Aku bahkan tidak tahu apa salahku..?

Yang ada Ibu hanya berteriak sambil menyebutkan nama Seseorang yang Ibu katakan sebagai Ayahku, Seseorang yang kemarin memukul Ibu.

Ibu.. Aku ingin membelai Wajahmu dan mengusap air matamu, Aku ingin mengatakan Aku sayang Ibu agar Ibu tenang,

tapi tanganku masih terlalu kecil untuk bisa merangkul bahkan membelai wajahmu Bu..

Tapi Tenanglah Bu, aku benar benar akan membahagiakan Ibu saat aku tumbuh besar nanti. Aku akan menjadi jagoan kecil Ibu dan melindungi Ibu, agar tidak ada lagi yang menyakiti Ibuku.

SAAT ABORSI

“Ibu.. Kenapa seharian ini Ibu tetap menangis..?

Apa Aku berbuat salah..?

Ibu, hukumlah Aku jika Aku salah,

tapi tolong usir benda yang menarikku ini..!

Ibu dia jahat padaku, dia menyakitiku,

Ibu.. Tolong Aku.. sakiiiiit.. Ibu..

Kenapa Ibu tidak mendengar teriakanku, Bu..

Benda itu menarik kepalaku,

rasanya leherku ini mau putus,

dia bahkan menyakiti tanganku yang kecil ini,

dia terus menarik dan menyiksaku.. Sakiiit.. Oh Ibu…

tolong hentikan semua ini, aku tidak kuat kesakitan seperti ini.. Ibu.. Aku sekarat…

ABORSI SELESAI

Ibuku sayang.. Kini aku telah bersama Tuhan di-

Surga, Aku bertanya kepadaNya,

apakah Aku dibunuh..? Dia menjawab Aborsi..

Ibu, aku masih tidak mengerti apa itu Aborsi..?

Yang Aku tahu sesuatu itu telah menyakitiku dan Aku sedih Bu.. Teman Temanku di Surga bilang, kalau Aku tidak di inginkan.

Ah.. Aku tidak percaya…

Aku mempunyai Ibu yang sangat baik

dan sayang padaku.

Mereka juga berkata, karena Aku..

Ibu merasa sangat malu !

Itu Tidak benar kan Bu..? Aku kan jagoan kecil Ibu

yang akan melindungi Ibu,

kenapa Ibu harus malu..?

Aku janji tidak akan nakal dan membuat Ibu malu.

Tetapi Mereka tetap bilang padaku,

kalau Ibu sendiri yang membunuhku..!

Tidak ! Ibuku tidak akan sekejam itu,

Ibuku sangat lembut dan mengasihiku..!

Maafkan Aku Ibu…

Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.

Karena Aku ingin membahagiakan Ibu, tapi sekarang Tuhan telah membawaku kesini, karena kejadian itu…

Benda Itu telah menghisap lengan dan kakiku hingga putus…

dan akhirnya mencengkeram seluruh tubuh mungilku.

Ibu.. Aku hanya ingin Ibu tahu,

bahwa Aku sangat ingin tinggal bersama Ibu,

Aku tak ingin pergi. Aku sayang Ibu,

walaupun Aku belum sempat bernafas

dan melihat wajahmu Ibu..

Ibu… Aku sangat ingin mengatakan,

biarlah Aku sendiri yang merasakan…

sakitnya diperlakukan seperti itu, asal jangan Ibu.

Ibu…Maafkan Aku…

karena gagal menjadi jagoan kecil…

yang akan melindungi Ibu…

Selamat tinggal Ibu..

Sumber Karya : 8 Kabar
Sumber Artikel ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2015/08/cerpen-moral-sosial-apa-salahku-ibu.html
Baca Selengkapnya ...

Monday, 11 May 2015

Cerpen Kisah Inspiratif - Keperawananku Demi Ibu

Cerpen, Kisah, Inspiratif, cinta ibu, Cerita dewasa , Keperawanan

Keperawananku Demi Ibu

Kisah Inspiratif - Keperawananku Demi Ibu

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja denganawas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. 

Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.Petugas satpam itu mulaiberpikir bahwa wanita itubukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untukmendekati meja wanita itu dan bertanya:"Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang?"Tidak! "Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain."Lantas untuk apa anda duduk disini?"Apakah tidak boleh?"Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam."Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.''"Maksud, bapak?"Anda harus memesan sesuatu untuk bisa dudukdisini""Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang.Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yangakan saya jual "Kata wanita itu dengan suara lambat."Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini?"Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yanghanya membawa brosur."Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.""Saya ingin menjual diri saya, "Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam dalam kearah petugas satpam itu.Petugas satpam itu terkesima sambil melihatke kiri dan ke kanan."Mari ikut saya, "Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. 

Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung."Apakah anda serius?""Saya serius "Jawab wanita itu tegas."Berapa tarif yang anda minta?""Setinggi tingginya..' '"Mengapa? Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu."Saya masih perawan""Perawan? "Sekarang petugas satpam itu benarbenar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya"Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''"Gampang sekali. Semuapria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan. Ya kan ...''"Kalau tidak terbukti?"Tidak usah bayar ...''"Baiklah ..."Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan."Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda.""Cobalah.""Berapa tarif yang diminta?""Setinggi tingginya.""Berapa?""Setinggi tingginya. Sayatidak tahu berapa?""Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya."Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah."Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?""Tidak adakah yang lebihtinggi?""Ini termasuk yang tertinggi, "Petugas satpam itu mencoba meyakinkan."Saya ingin yang lebih tinggi...''"Baiklah. Tunggu disini..."Petugas satpam itu berlalu.Tak berapa lama petugassatpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri."Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?""Tidak adakah yang lebihtinggi?""Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria,anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi daritransaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama sama butuh ...""Saya ingin tawaran tertinggi ... "Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat."Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya.Tapi sebaiknya anda ikut saya.Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. "Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua."Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan.Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuhwanita itu ..."Berapa? "Tanya pria itu kepada Wanita itu."Setinggi tingginya"Jawab wanita itu dengantegas."Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? "Kata pria itu kepada sang petugas satpam."Rp. 6 juta, tuan""Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam."Wanita itu terdiam.Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu."Bagaimana? "tanya pria itu.''Saya ingin lebih tinggi lagi ..."Kata wanita itu.Petugas satpam itu tersenyum kecut."Bawa pergi wanita ini."Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras."Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual?""Tentu!""Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ...""Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. 

Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya."Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya."Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya."Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Ripiah.Apakah itu tidak cukup? Terdengar suara pria itu berbicara.Wajah pria itu nampak masam seketika"Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?!"Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara denganwanita.Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan diwajah pria itu.Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: "Pak, apakah anda butuh wanita ... ???"Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya."Ada wanita yang duduk disana, "Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. "Dia masih perawan..''Pria itu mendekati petugas satpam itu.Wajah mereka hanya berjarak setengah meter."Benarkah itu?""Benar, pak.""Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu...""Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi tingginya.''"Saya tidak peduli ..."Pria itu menjawab dengan tegas.Pria itu menyalami hangat wanita itu."Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah..."Kata petugas satpam itu dengan nada kesal."Mari kita bicara dikamarsaja."Kata pria itu sambilmenyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.Di dalam kamar ..."Beritahu berapa harga yang kamu minta?""Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit""Maksud kamu?""Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih ....""Hanya itu ...''"Ya ...!"Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat."Siapa nama kamu?""Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ..."Kata wanita itu"Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar."''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!""Ada ! Kata pria itu seketika."Sebutkan!""Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli darikamu.Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu kerumah sakit.Dan sekarang pulanglah... "Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya."Saya tidak mengerti ...''"Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih.Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar...''"Dan, apakah bapak ikhlas...?""Apakah uang itu kurang?""Lebih dari cukup, pak ...""Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?""Silahkan ...''"Mengapa kamu begitu beraninya ...""Siapa bilang saya berani.Saya takut pak ...Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya kerumah sakit dan semuanya gagal.Ketika saya mengambil keputusan untuk menjualkehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ...Saya hanya bersikap danberbuat untuk sebuah keyakinan ...""Keyakinan apa?""Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah lah yang akan menjaga kehormatan kita ..."Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:"Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini...""Kesadaran...".. . .

Di sebuah rumah dipemukiman kumuh.Seorang ibu yang sedangterbaring sakit dikejutkanoleh dekapan hangat anaknya."Kamu sudah pulang, nak""Ya, bu ...""Kemana saja kamu, nak... ???''"Menjual sesuatu, bu ...""Apa yang kamu jual?"Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum ...Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Allah selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan ..."Kini saatnya ibu untuk berobat ..."Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: "Allah telah membeli yang saya jual...".Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotelmasih setia menunggu didepan rumahnya. Dimasukannya ibunya kedalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi:"Antar kami kerumah sakit ..."

Karya : Suk Gik Se Ozawa
Theme Song : Titiek Puspa - Kupu-kupu Malam >> [DOWNLOAD HERE]... !!! 
Sumber Artikel Ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2015/05/cerpen-kisah-inspiratif-keperawananku.html
Baca Selengkapnya ...

Monday, 21 April 2014

Cerpen sedih dan pilu : Lagu Untuk Sephia

 Cerpen sedih, pilu , inspiratif , kisah , cerita



Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB tapi aku masih terjaga melamunkan sesuatu barangkali ada sebuah inspirasi yang bisa kujadikan lagu. Perlu diketahui aku pengarang lagu yang cukup dikenal di kotaku, yah walaupun hanya nyiptain lagu untuk band indie dan penyanyi lokal ataupun pesanan untuk acara tertentu tentunya dengan tarif murah meriah yang penting karya saya dihargai dan lagu saya dinyanyikan oleh orang-orang di kota saya itu sudah cukup membuat diriku bangga bukan main.
Sambil terus melamun sembari memetik gitar tuaku warisan dari ayahku yang juga pecinta musik, terus kupetik berharap aku bisa terlelap juga terbawa suasana petikan gitarku.
Saat kurasa mataku sudah mulai berat dan rasa kantukku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, akupun mulai membuka jendela mimpiku. HPku berbunyi kencang sekali memudarkan segala awal mimpiku yang baru saja aku arungi

Dengan nada menggerutu dan kesal aku mencoba mencari-cari HPku

"Siapa sih, udah malam begini telepon-telepon aja ! susah banget lagi HP dicari, nah ini dia"

"Halo, apa benar ini nomornya mas Syahrul" Suara yang sangat lembut menyapa membuat rasa kantuk dan kesalku hilang dalam sekejap.

"III... Iya betul sekali ini dengan saya Syahrul Andrian " Dengan sedikit gugup aku sebutkan nama lengkapku seperti biasa bila ada orang yang telepon, dan baru pertama kali ini ada suara gadis yang sangat lembut yang meneleponku tengah malam.
"Wah lumayan ini bakal pensiun dari titel jomblo" gumamku dalam hati dengan sedikit terkekeh-kekeh

"Oh iya, begini mas saya mau dibuatkan lagu untuk hari ulang tahun saya, bagaimana? bisa apa tidak?" lagi-lagi suaranya menghipnotis diriku menjadi sok ganteng dalam menjawabnya

"Bisa boleh, dengan siapa saya bicara?"

"perkenlakan mas nama saya sephia dan saya mau merayakan ulan tahun yang ke 22, saya pengen diulang tahun saya ada yang menyanyikan lagu untuk saya, makannya saya hubungin mas yang terkenal nyiptain lagu yang sangat romantis dan menyentuh" Pujiannya membuat hatiku berbunga dan jantungku berdetak kencang menghapus semua rasa kantukku di tengah malam ini.

"Baik salam kenal memang ulang tahunnya kapan? tanggal berapa?"

"Tiga hari kedepan mas tanggal 15 Mei"

"Oke, mau dibuatkan lagu ulang tahun atau bertema yang lain?"

"Begini mas, saya mau dibuatkan lagu yang bercerita tentang kisah percintaan saya mas. Cerita sedikit bleh kan mas?"

"Boleh, malah itu justru lebih baik jadi saya lebih mudah membuatkan lagu yang mengena"

"Terima kasih mas, Ceritanya begini aku menjadi simpanan seorang pria ya biasa disebut kekasih gelap mas. Saya sungguh mencintainya sampai saya rela dijadikan yang kedua karena dia pernah berjanji suatu saat aku akan jadi yang pertama dan dinikahinya tapi ternyata dia justru menikah dengan kekasihnya itu,Huksss" Sembari menangis dia menceritakan semua

"Ya begitulah lelaki jangankan jadi yang kedua, jadi yang pertamapun belum tentu akan dicintai selamanya, kamu yang sabar suatu hari akan ada lelaki yang benar tulus mencintaimu" Dengan memberi nasehat dan coba menenangkan sephia akupun berpikir kenapa ya wanita mudah sekali tertipu janji palsu pria

"Iya mas terimakasih sudah mau mendengarkan cerita saya dan maaf juga kalau saya menangis. Assalamualaikum" Tuuutttt Seketika dia menutup telponnya tanpa aku mengucapkan salam perpisahan

Tapi ya sudahlah, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari dan rasa kantukku kembali datang setelah suaranya berlalu, akupun tertidur dengan berjuta buaian mimpi.

Hari berlalu seperti biasa akupun sibuk dengan pekerjaanku membuat lagu atupun berkeliling dari Cafe ke Cafe untuk bernyanyi hingga tiba saatnya hari ini tanggal !5 Mei dan sebuah lagupun sudah jadi khusus untuk sephia dan sengaja dalam lagu ini aku sisipkan lirik yang mengandung nasehat untuk para wanita supaya jangan mau dijadikan yang kedua. Seketika terlintas dalam pikiranku kalau aku lupa menanyakan alamatnya dan lansung saja ku coba telepon nomor HPnya

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan","Aduuuh , mana gak aktif lagi telponnya, la ini bagaimana ku ke rumahnya" Pikirku kebingungan dan betapa bodohnya aku kenapa sampai lupa menanyakan alamatnya.
Dan tiba-tiba HPku berbunyi dan kulihat ada SMS dari nomor sephia yang tadi tidak aktif, lansung aku buka bunyinya seperti ini :

Terima kasih mas sudah menciptakan lagu buat saya, silahkan datang saja ke Jln. Pahlawan Gg. Mawar no 20 acaranya pukul 07 malam. Terima kasih

Dan tanpa pikir panjang aku lansung menelponnya, begitu menelponnya aku terkaget kembali karena nomor HPnya sudah tidak aktif lagi

"Kok cepet banget ya, begitu ngirim sms lansung di non aktifin dan sms itu tepat datangnya waktu aku lagi butuh alamatnya" Dengan terheran-heran aku kebingungan

"Tapi sudahlah yang penting lagunya sudah jadi, jadi aku gak ngecewain klien aku"

Waktu berlalu sampai sore hari hingga tepat jam 6 sore akupun bersiap untuk berangkat menuju rumah sephia yang berjarak setengah jam perjalanan dari rumahku dengan membawa gitar tua kesayanganku warisan dari almarhum Bapakku serta sedikit bingkisan untuk sephia yang semoga saja berkesan.
Kupakai jaket dan helmku akupun berangkat dengan motorku.

Setelah melalui setengah jam perjalanan dari rumah akupun sampai di rumah sephia tapi keadaan dirumah sephia sepi sekali seperti tidak ada gemuruh dan hingar bingar pesta.

"Apa aku salah rumah yah, atau aku yang datangnya terlalu awal" Sambil melihat sms yang tadi di hp

"Betul, ini alamatnya tapi kenapa begitu sepi ya?. Ah coba masuk aja mungkin masih nyiapin acaranya di dalem".
Akupun bergegas menuju pintu dan memencet bel rumahnya yang terletak di samping kanan pintu rumahnya dengan berharap wanita cantik yang akandatang membukakan pintu tapi ternyata seorang wanita yang sedikit tua dengan sedikit keriput di dahi dan dengan senyum menyapa saya

"Selamat malam nak, ada perlu apa ya kemari?"

sembari kutengok seisi rumah yang sepi dan tidak ada tanda-tanda pesta akupun menjawab sapaan ibu itu

"Selamat malam juga bu, maaf sephianya ada bu ? soalnya saya ada kepentingan" dan ku balas juga senyum ibu itu yang manis mungkin anaknya juga mempunyai senyum yang manis juga seperti ibunya.

"Maaf nak sephianya....silahkan masuk dahulu nak" senyum yang manispun berubah dengan mata yang berkaca-kaca untuk mempersilahkan aku masuk

Sesampai di ruang tamu ibu tua ini semakin menangis menderu-deru, akupun kebingungan apa yang sebenarnya terjadi, dengan sedikit terisak ibu itupun berkata

"Sephia sudah meninggal dua tahun yang lalu nak, dia meninggal karena bunuh diri" Sang Ibu kembali menangis menderu-deru

Akupun sontak terkaget bagai disambar petir kalau ternyata suara di telepon itu suara arwah sephia, seraya aku bercerita kepada ibu

"Maksud saya datang kesini atas permintaan sephia tiga hari lalu untuk membuatkan lagu di hari ulang tahunnya bu" kataku sambil menenangkan ibu yang justru malah menangis menderu-deru

"Hiks hiks hiks.. sephia anak perempuan ibu satu-satunya tapi dia justru meninggalkan ibu dengan cara yang tragis, dia gantung diri.. huks huks dan hari ini memang hari ulang tahunnya yang ke 22. Ibu rindu sekali dengan keceriaanya di rumah ini, sepeninggalnya rumah ini sangat sepi" dengan susah karena terisak tangisannya ia mencoba menceritakan sephia anak perempuan satu-satunya

"Begitu jadi ya bu, saya ikut berduka juga dan semoga arwah sephia tenang disana, dan saya juga pamit saja bu untuk pulang takut nanti kemaleman"

Kemudian aku pamit dengan menjabat tangan ibu yang masih berlinang air mata dan aku pulang menuju rumah dengan kebingungan atas apa yang menimpa pada diriku ini sungguh kisah yang tak pernah terbayangkan olehku, dengan motorku aku segera bergegas pulang dengan pikiran sephia yang membingungkan aku.

Setelah setengah jam perjalanan sampai juga dirumah dan aku lansung menuju kamarku, tempat tidur yang ku cari untuk merebahkan tubuhku membayangkan semua yang terjadi hari ini begitu tidak bisa dinalar olehku. Kupandangi gitar tuaku dan terlintas dalam pikiranku untuk memainkan lagu yang kuciptakan untuk sephia. Akupun terbangun dan juga merogoh sakuku yang berisi kado untuk sephia kubuka saja kado ini yang berisi bunga dan lilin aromatherapy yang semula untuk dinyalakan di makan malamku dengan sephia. Kusandingkan saja bunga ini dan kuhidupkan lilin aromatherapy ini serta dengan gitar yang sudah siap kumainkan akupun berkata sebelum menyanyi

"Sephia ini lagu aku persembahkan hanya untukmu, semoga dengan aku nyanyikan lagu ini arwah kamupun tenang disana dan kau disana menyaksikan dengan senyuman dan karena lagu inilah memberi pesan kepada setiap wanita supaya tidak terbuai janji palsu pria"

Dengan aroma bunga mawar yang ku pajang dan lilin aromatherapy yang terbakar memberikan suasana romantis akupun memetik gitarku dan bernyanyi :

C#m
Hey, Sephia
G#m
Malam ini ku takkan datang
F#m              G#
Mencoba tuk berpaling sayang dari cintamu

C#m
Hey, Sephia
G#m
Malam ini ku takkan pulang
F#m            C#m
Tak usah kau mencari aku, demi cintamu
D
Hadapilah ini
B
Kisah kita takkan abadi
Reff
E
Slamat tidur kekasih gelapku oh Sephia…
C#m
Smoga cepat kau lupakan aku
A                                  
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup
B        G#
untuk melupakanmu
C#m
Slamat tinggal kasih tak terungkap oh Sephia…
E
Smoga kau lupakan aku cepat
A                                  
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup
B           E
untuk meninggalkanmu
C#m
Hey, Sephia
G#m
Jangan pernah panggil namaku
F#m            C#m
Bila kita bertemu lagi di lain hari
D
Hadapilah ini
B
Kisah kita takkan abadi

***TAMAT

Cerita ini terinspirasi dari lagu Sheila On 7 - Sephia

Oleh : Muhamad Ismail


Sumber dari artikel ini http://puisikaryaasli.blogspot.com/2014/04/cerpen-sedih-dan-pilu-lagu-untuk-sephia.html

Baca Selengkapnya ...

Monday, 21 October 2013

Cerpen Kenangan : Senyum di Rintik Hujan Part I

Senyum di Rintik Hujan Part I


Rintik hujan ini mengingatkan akan hal paling indah dalam hidupku, tak terbayang saat itulah aku bertemu sejumput hangat senyuman darimu senyum yang mengembang manis memberi sapaan dan kubalas dengan senyumanku yang paling  manis menurut pandangku. Hingga tak sampai kuberkata dan menyapa hujanpun mereda, diapun bergegas pergi meninggalkanku kembali memberi senyum manisnya serasa mengucapkan kata perpisahan yang indah. Kurasakan yang tak pernah kurasakan hatiku bergetar dan mataku tidak mau lepas dari setiap detik senyumnya seperti kupu-kupu yang tak mau lepas membidik bunga yang cantik dan dipenuhi madu.

Waktupun tak lelah terus berputar dan hari selalu berganti tanpa heanti, ku selalu terbayang kelembutan senyumnya yang serasa memberi kebahagiaan tak terbatas, kebahagiaan seorang pangeran yang menemukan cinta sejatinya sungguh terasa manis semanis-manisnya. Andai saja waktu itu hujan tak berhenti, mungkin aku sudah jauh mengenalnya dan jauh lebih dekat dengannya. Seorang gadis dengan senyum termanisnya yang mampu membius hatiku, yang mampu menghentikan sebuah rintik hujan yang teramat deras, membuat suara bising hujan terasa seperti alunan lagu yang syahdu menciptakan suasana yang begitu romantis bagiku.

Tibalah hari itu sepulang kerja seperti biasanya aku menunggu bus untuk pulang di halte bus. Dengan hujan yang deras mengingatkan aku pada peristiwa manis itu, sedang nikmatnya menikmati lamunanku tiba-tiba aku menyium harum yang sama yang begitu lembut dan semerbak wangi, akupun segera mumutar kepalaku penasaran ingin melihat siapa disampingku. Serasa jantung berdetak kencang aliran darah lansung naik ternyata dia kembali dengan memberi senyuman manisnya. Dengan salah tingkah dan gemetar akupun berusaha membalas senyumnya, entah apa yang menyumbat pikiran dan mengunci lidahku sehingga terasa sulit sekali untuk menyapa serta berkenalan dengannya, tapi dengan sangat ku beranikan diri karena ku tak mau kehilangan kesempatan indah untuk bisa lebih mengenalnya.

Dengan nada gugup akupun mencoba menyapanya

"hai ka..ka..mu kok disini lagi?"

"loh kenapa? ini kan tempat umum jadi siapa aja boleh donk berada disini" kembali ia menjawab dengan nada sedikit kesal tapi serasa lenyap saat dia mengakhiri dengan senyum manisnya. Dan begitu bodohnya aku menanyakan hal seperti itu.

"oh.. maaf maksud aku kamu kok nunggu bus disini apa tempat kerjamu dekat sini?" akupun mencoba mengalihkan suasana dengan pertanyaan yang ringan

"iya, itu kantorku seberang jalan kelihatan juga kok dari sini, la kamu kerja dekat sini juga?"

"sama deket juga tapi kantorku tuh mall yang gede itu" dengan nada malu aku menjawabnya, perlu diketahui aku lulusan sarjana S1 jurusan tekhnik yang baru lulus jadi masih nyari kerjaan sembari nyari aku kerja di lapak komputer Omku di mall itu.

"wah seneng donk bisa belanja tiap hari, emang kamu kerja dibagian apa?"

"nggak kok, aku cuman disuruh nungguin lapak komputer omku. Eh dari tadi nanya belum kenalan kita, perkenalkan nama saya Revan, salam kenal" sambil menyodorkan tangan kepadanya aku ucapkan kata-kata perkenalan yang umum aja karena tidak tahu harus ngomong apa

"namaku marsha, salam kenal juga" sambil tertawa kecil mungkin dalam pikirannya formal sekali ini orang kaya orang penting, diapun menyodorkan tangannya yang halus untuk bersalaman dengan tanganku yang sedikit kasar

Kamipun mengobrol dengan asyik hingga tanpa terasa hujan sudah berhenti menari-nari diatas langit.

"hujan sudah reda nih tapi bus belum lewat" kataku sambil berharap jangan ada bus yang lewat dulu karena ingin rasanya kesempatan seperti ini tidaklah cepat berlalu

"iya nih belum juga ada bus yang lewat" jawabnya singkat seperti tidak fokus kepada diriku karena sedang asik menekan keypad handponenya

"daritadi sibuk terus nih sama handponya sampai akunya dilupain" sambil bergurau aku berusaha memecahkan keheningan

"hehe..iya nih maaf yah soalnya sms penting banget" diapun melihatku dengan tersenyum manis, senyum yang mampu meruntuhkan kokohnya benteng hatiku

"oh gakpapa kok. oh iya kamu punya obeng gak?

"nggak"

"punya kunci inggris gak?"

"nggak juga" jawabnya sedikit bingung dengan pertanyaan anehku

"tapi nomor hp punya kann?"

"haaa,apa?!!!" seketika dia tertawa karena berpikir gombalanku yang sudah garing sering banget di tv.

Diapun mengambil tissu dan bolpoin dan segera menuliskan nomornya dan bergegas pergi rupanya sudah ada sedan merah yang sudah datang menjemputnya dengan sopir seorang lelaki sangat tampan mebukakan pintu, sebelum dia masuk ke pintu mobil dia memberi isyarat jempol dan kelingking yang ditempel di kuping. Akupun paham bahwa dia menginginkan aku untuk meneleponnya, diapun bergegas pergi dengan sedan merah yang menabrak gerimis hujan itu bersama lelaki yang sangat tampan apa mungkin kekasihnya atau bahkan sopirnya pikirku sambil tertawa karena lelaki setampan itu tidaklah mungkin menjadi sopir. Ah tapi biarlah buspun sudah lewat akupun bergegas naik untuk pulang, sambil terus tersenyum sendiri membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi bisa berkenalan dengannya, seorang gadis yang senyumnya membayangi setiap hariku.

Malam yang begitu indah ktengok dari jendela tampak sinar rembulan yang penuh ditemani gemerlap bintang yang menambah indahnya di malam ini. Sedang melamun terlintas dipikiranku bahwa aku punya nomor telepone marsha

"ohh.. hampir saja lupa dimana ya tadi sore aku taruh tissue itu" Akupun mencari kesana kemari di tas yang aku pake tadi sore di saku baju

"aduuh..hilang nih kesempatanku untuk bisa lebih deket dengannya, mana belum tentu lagi bisa ketemu dengannya" sambil terus mencari tissue dengan sejumput tulisan nomor handpone seorang gadis manis.

Teringat aku di celana yang dipake tadi sore kalau aku menyimpannya disaku celanaku lansung aku bergegas ke kamar mandi karena celanaku sudah aku rendam. Aku geledah bak cucianku tak peduli malam itu begitu dinginnya terus ku cari celanaku sampai cucian yang aku rendam jadi berantakan kemana-mana

"aduh dimana ini kok belum ketemu sih celanaku, celana dimana kamu celana?" tanyaku konyol kepada celanaku  karena disaku itulah tersimpan tissue nomor hamdpone seorang gadis yang mungkin sudah lecek karena terlipat-lipat

***Bersambung

Karya : Muhamad Ismail

Sumber artikel ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2013/10/cerpen-kenangan.html
Baca Selengkapnya ...

Thursday, 10 October 2013

Cerpen : Ketika Kemarin Memudar Part II

 Ketika Kemarin Memudar Part II
***
Aku nyaris tak berkedip menatap layar laptopku. Dan sejurus kemudian, sebuah senyum kelegaan, bercampur kebahagiaan dan kebanggaan tak terkira terpeta di bibirku.
Psikologi, UGM. Ya, aku lolos !
“Mama..aku ke UGM ma !!” teriakku masih enggan bangkit dari depan laptopku, masih ingin menatap pengumuman itu. Meski hanya sebaris kalimat. Namun kalimat yang membuncahkan sejuta kebahagiaan dalam hati.
“Drrtt..drrrttt...”
“Halo, gimana Fy ?” suara Alvin langsung menyapaku. Bisa ku tebak, ia juga sedang mendapatkan berita terbaiknya.
“UGM Vin, gue ke jogja..kampus biru hahaha..”
“Congrats yaa..”
“Makasih Alvin...lo sendiri gimana ?”
“Menurut lo gimana ?”
“Pasti lolos, iyakan ?”
“Hehehe..temen lo jadi calon dokter gigi nih Fy”
“Ahh Alvin, selamat ya selamat !! asik deh, entar gue bisa periksa gigi gratis..haha..”
“Woo..eh, ntar malem ada acara enggak ?”
“Enggak, kenapa ?”
“Entar gue ke rumah lo ya ?”
“Oke, gue tunggu, jam berapa ?”
“Jam tujuh mungkin, ya udah deh, sekali lagi selamat ya, awas jangan ikutan stres sama pasien lo entar..hahaha..”
“Si...”
Klik. Belum sempat aku membalas kata-katanya, Alvin telah terlanjur menutup telponnya. Hah, rasanya kebahagianku menjadi tambah berlipat ganda. Dan sekarang, aku malah menjadi mengira-ngira, untuk apa ya Alvin datang ke rumahku nanti malam. Adakah hal yang ingin ia sampaikan ?
Ahh, aku jadi penasaran.
*
Dan ia berdiri di hadapanku sekarang, terlambat dari waktu yang ia bilang. Ini sudah jam sembilan malam, sudah sejak dua jam lalu aku menunggunya, ia datang dengan wajahnya yang babak belur. Tanpa perlu bertanya, aku juga mengerti, apa yang terjadi dengannya.
Tiga tahun bersahabat. Dan satu tahun duduk bersama, membuat aku sangat mengerti dengan apa yang sering Alvin alami.
“Ada apa Vin ?”
Dia tersenyum lirih ke arahku. Hanya tersenyum di tempatnya, tanpa melanjutkan langkahnya. Dia berhenti, dan akhirnya aku yang maju. Menujunya yang berdiri di halaman rumahku.
“Vin, ada yang bisa aku bantu ?”
Ia langsung memelukku. Untuk alasan yang aku mengerti tapi tidak ku ketahui sepenuhnya. Aku melingkarkan tanganku di punggungnya, menepuk-nepuknya, mencoba menghibur speerti layaknya seorang sahabat.
Untuk beberapa saat, kami menelan waktu dalam pelukan ini. Tidak peduli pada ketukan detik yang terpacu cepat. Tangan Alvin semakin memelukku erat. Aku sama sekali tidak memberontak atau risih karenanya. Aku ingin menjadi orang yang menenangkannya, dan itu aku sekarang.
Nada-nada alam dari ketukan air yang menyentuh tanah dalam hujan yang tiba-tiba, mengguyur kami, yang tetap saja, saling berpelukan satu sama lain.
Tubuhku mulai basah, rasa dingin mulai merasukiku. Tapi aku benar-benar tidak ada niatan untuk meminta Alvin melepaskan pelukannya. Ada yang bergetar dalam hati ini, sesuatu yang tidak aku kenal, sesuatu yang baru namun terasa begitu nyata. Teduh dan hangat, bahkan meski gemericik hujan semakin deras tertumpah dari langit nan membentang.
Apa yang terjadi padaku ?
“Fy..” untuk pertama kalinya, sejak kedatangannya, akhirnya bibir itu terbuka.
“Ya ?”
“Gue sayang sama lo..”
*
Hiruk pikuk yang terjadi di stasiun ini, sama sekali tidak menyurutkan air mataku untuk mengalir sederas-derasnya. Tinggal dua puluh menit lagi, sebelum kereta dengan gerbong abu-abunya itu akan membawa tubuhku ke Jogja, kota dimana aku akan menapaki langkah baruku.
“Fy..” Shilla terisak di hadapanku, membuat aku juga terus menangis.
“Ahh Shilla..jangan bikin gue berat dong..” aku kembali memeluk sahabatku itu. Ternyata berpisah tak semudah kelihatannya.
Sahabat adalah kepingan jiwa, terasa seperti mati rasa ketika harus meninggalkannya.
“Fy, take care ya..” ujar Rio tersenyum ke arahku, dan menepuk kepalaku pelan. Aku hanya bisa mengangguk. Ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan sementara ini. Ketidak hadirannya.
Alvin, entahlah ada dimana ia saat ini.
“Alvin marah ya Yo sama gue, karena gue nolak dia ?” tanyaku pelan, tidak melihat Rio, melainkan melihat ke arah pintu masuk stasiun, berharap dapat menemukan sosoknya sedang berjalan ke arahku.
“Gue juga enggak tahu, gue juga enggak bisa ngehubungin dia dari tadi pagi, tapi gue rasa Alvin enggak akan marah sama lo..”
“Tapi dia enggak datang sekarang..” desahku, yang entah mengapa harus kecewa.
“Fy, ayo naik, sebentar lagi keretanya berangkat..” mama mengingatkanku. Aku menghela nafas, ingin menahan waktu, dan menunggu Alvin untuk datang, meski itu tidak mungkin bisa.
Masih dengan air mata berurai, aku memeluk Shilla lagi, hanya saja lebih singkat kali ini, memeluk Rio, dan kemudian berbalik mengikuti mama yang berjalan di depanku. Sebelum naik, lagi-lagi aku menyempatkan diri untuk menoleh ke titik itu, tempat yang aku pandang dengan bias harap bercampur nanar. Ia tetap tidak hadir, sama sekali tidak.
“Nanti kan kalau liburan kamu juga bakalan pulang Fy, udah ah nangisnya..” tegur mama, setengah menasihati. Aku hanya tersenyum.
Kereta mulai berjalan. Perlahan, meninggalkan kota ini, meninggalkan gedung-gedung beton pencakar langit yang sering ku lihat setiap hari. Meninggalkan semuanya.
Dan ia tetap tak nampak. Menghilang. Benar-benar menghilang.
***
Reflek, aku langsung menghapus setitik air mata yang jatuh tanpa kendaliku. Mengingat tentangnya selalu membuatku seperti ini. Aku berdiri dari bangku, yang dulu merupakan bangkuku, untuk sekejap, aku menoleh menatap kursi kosong yang ada tepat di samping kananku. Tempatnya dulu duduk.
Alvin, ada dimana kamu ?
Ya, tiga tahun berlalu, dan aku tetap tidak mengetahuinya. Dan sepertinya memang tidak ada yang mengetahuinya. Rumahnya pindah. Nomornya tidak lagi aktif, sehari setelah keberangkatanku ke Jogja waktu itu.  Ia lenyap, tak bersisa.
Dan aku ?
Yang terlalu bodoh ini. Baru menyadari satu hal. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.
Tidak ingin terlalu lama ada disini, aku buru-buru beranjak pergi. Lagipula, aku telah membuat janji dengan Rio dan Shilla untuk makan siang bersama.
Di sebuah kafe, di bilangan tebet. Aku menunggu kehadiran mereka berdua. Sesaat ku amati sekelilingku, semua telah berubah. Kota ini berubah terlalu banyak. Dan sayangnya aku tidak di ajak serta dalam perubahan itu. Aku terbenam dalam cerita masa lalu yang aku sesali.
Hidup itu pilihan, termasuk juga sebuah penyesalan.
“IFY !!..ahhh gue kangen !” Shilla langsung menghambur, memelukku, sementara Rio berjalan di belakangnya.
“Gue juga !! haha..liburan semester kemarin gue juga balik ya..”
“Hei Yo, lo tambah item aja ..haha..” sambungku, sambil menjabat erat tangan Rio.
“Iya nih, gue abis pkl Fy..”
“Kemana ?”
“Chevron di Minas..”
“Sumpah lo bisa pkl disana ? ahh keren banget ! ehem..sahabat gue mau jadi tukang minyak, entar kalau udah tajir jangan lupa sama gue, oke..”
Rio dan Shilla hanya terkekeh menyaksikkan tingkahku. Dua sahabatku ini, bisa dibilang adalah contoh pasangan yang wajib ditiru, berpacaran sejak kelas dua sma, berlanjut hingga kuliah sekarang meski tol cipularang memisahkan mereka, namun keduanya tetap saja bisa menjaga kekompakkan untuk menjaga hubungan mereka.
Dan layaknya sebuah persahabatan, kami bertiga mulai asik menceritakan setiap detail pengalaman yang telah kami lalui, apapun itu. Meski terasa ada yang kurang, karena ia tidak ada disini.
Alvin, bisakah kamu kembali ?
“Yo..elo beneran enggak tahu, Alvin ada dimana ?” tanyaku pelan. Setiap bertemu, aku selalu menanyakan ini. Dan bisa saja kan, Rio mulai jengah dengan sikapku ini.
“Fy..gue sama Rio selalu berusaha buat nyari keberadaannya Alvin, kita juga mau ketemu sama dia, tapi ya kaya yang lo lihat, dia enggak meninggalkan jejak sedikitpun buat kita lacak..” Shillalah yang menjawab pertanyaanku. Dan aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar jawabannya.
Ia seperti menyatu dengan udara, yang menghilang tanpa jejak, tapi ke alpaannya begitu hebat terasa.
***
Seminggu terakhir, sebelum aku kembali ke Jogja. Rio sudah kembali ke Bandung dan Shilla sedang ada acara di kampusnya. Tidak ada kerjaan di rumah, aku memutuskan untuk berjalan-jalan, sekedar menyegarkan mata.
Aku memasuki sebuah mall di jantung ibu kota, gedungnya yang unik, seperti balok-balok kotak yang miring serta warna dindingnya yang begitu ceria dan berwarna-warni. Berjalan sendirian tanpa tujuan, membuatku hanya mengelilingi tempat ini tanpa jeda.
Hingga langkahku terhenti, dan tubuhku bergetar hebat.
Aku melihatnya. Dan aku yakin itu dia.
Alvin.
Tanpa mengulur waktu, aku mengejarnya, membiarkan wedgesku menghentak lantai dengan brutal. Tak menghiraukan orang-orang lain yang menatapku bingung.
“Alvin..” dan tanpa malu-malu, aku mencekal pergelangan orang itu. Membuatnya menoleh ke arahku.
“Ya..”
“Vin, ini aku, Ify..”
Dia tersenyum, sesuatu yang membuatku tambah yakin bahwa ini dirinya. “Maaf, tapi gue enggak kenal sama lo..”
Aku membeku. Ku lepaskan tanganku dari tangannya, aku berjalan mundur, tubuhku serasa limbung. Hingga akhirnya tanpa aku sadar, aku menabrak orang lain di belakangku. Dan aku terpaku, menatapnya. Suara keramaian yang tadi sangat nyata, kini malah seperti dengungan memekakkan telinga. Aku merasa sendiri, dan sama sekali tidak mengerti.
***
Entah sudah untuk keberapa kalinya. Aku kembali mengamati wajah laki-laki di depanku ini lekat-lekat. Berjuta-juta persen, aku yakin ia Alvin, dan ia memang Alvin, ia mengaku itu. Tapi bukan Alvinku, ia tidak mengenaliku. Dan aku tidak mengerti kenapa.
“Kamu beneran enggak kenal sama aku ?” tanyaku lagi. Lebih dari yang kesepuluh kalinya.
“Harus gue jawab berapa kali sih, gue sama sekali enggak kenal sama elo, maaf..”
Aku tersenyum lirih. Entah untuk alasan bodoh macam apa, tapi aku memintanya untuk duduk bersamaku di sebuah restaurant. Aku masih tidak percaya, sama sekali tidak percaya. Aku rasa hanya ada satu Alvin, dan itu Alvinku.
“Tapi lo perlu tahu satu, gue ini seorang penderita amnesia..”
“Vin..”
“Dan gue enggak ada niatan sama sekali, untuk minta ingatan gue kembali lagi”
Seperti ada Zeus yang sedang menghunuskan petirnya ke dadaku, aku tidak bisa berkata-kata untuk apapun. Mati rasa. Tidak mengerti, mengapa orang yang sekian tahun ini ingin aku temui, terasa begitu berbeda dan tidak aku kenali, bahkan tidak mengenaliku.
“Ke..kenapa..?” tanyaku terbata.
“Kata beberapa orang, masa lalu gue enggak begitu bahagia, gue seorang anak broken home yang sering di hajar sama bokap gue sendiri. Tapi sekarang, gue udah tinggal sama nyokap, gue lebih bahagia di kehidupan kedua gue ini..itu sebabnya gue enggak mau tahu tentang yang dulu..”
“Tapi aku sahabat kamu di masa lalu, aku sayang sama kamu” ujarku lirih, sambil menunduk, tidak berani menatapnya, tidak ingin menangis di depan orang asing yang benar-benar tidak aku kenali sama sekali.
“Maaf kalau gue ngecewain lo, tapi ini pilihan gue. Dan kalau apa yang lo bilang tadi benar, kalau kita memang sahabat, ada baiknya, elo nerima keputusan gue..”
Aku mengangkat wajahku, menghapus air mata yang terlanjur menetes, dan menatapnya. “Hai Alvin, boleh kita kenalan ? aku Ify..” sambil tersenyum, aku mengulurkan tanganku.
“Boleh..gue Alvin..” balasnya sambil tersenyum juga, dan menerima uluran tanganku.
Dan kehangatan tangannya masih sama seperti dulu.
Seperti dulu.
*** bersambung ke
Karya & Sumber : Jejak-jejak Pena
Baca Selengkapnya ...
Designed By SEO Blogger Template Modify by SOB Design