Breaking News
YouGep Reloads All Operator Pulsa

Showing posts with label Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Kenangan. Show all posts

Wednesday, 1 October 2014

Puisi Cinta - Gadis Berkerudung Berkacamata

Gadis Berkerudung Berkacamata

Puisi Cinta - Gadis berkerudung berkacamata


Terlihat di jendela ruang kelas yang terbuka
Wajah dengan senyum manis yang tak terlupa
Rasa selalu ingin memperlambat langkah saat melihatnya
Sedikit curi pandangku yang mungkin tak terkira olehnya

Dia sungguh cantik laksana bidadari
Begitu juga hatinya yang ia tunjukkan dari cara berbusana
Kerudung yang melingkar menutupi mahkota sampai ke dasar punggungnya
Dia tutupi segala bagian yang menurut wanita lain menunjukkan kecantikan

Tak jenuh ku memandang dia saat dia lewat depan kelasku
Saat dia berbalik menatapku,
aku tak sanggup menatap lama mata yang berkacamata itu
Ku lirik dia kembali saat dia beralih pandang dariku
Tampak senyum yang manis sebelum berlalu dari tatapanku
Sungguh aku bagai beruang jantan pemalu terhadap hello kity yang ayu

Hatiku bergetar saat dia ucapkan selamat pagi pertama untukku
Senyum manisnya yang semakin menunjukkan lesung pipih itu
Gigi berjejalnya ikut tampak, setelah berucap selamat pagi
Ku balas ucapan termanis itu dengan senyumku yang tak terlalu manis

Aku seperti malaikat yang memiliki bidadari ayu
Kata I Love you ku dibalas i love you too 
Dia benar-benar menjadi tulang rusukku
Melindungi jantung dan paru-paru
Karena dia merupakan detak jantung dan hembusan nafasku

Tulang rusuk itupun terletak diantara kedua lenganku
Membuatnya pantas untuk dilindungi
Semua itu hanya khayalan imajinasi
Rasa ini benar-brnar rasa yang tertinggal di hati
Takkan mungkin bisa terungkap lagi

Aku telah melewatkan saat terpenting dalam hidupku
Seharusnya ku bisa menunjukkan bukan hanya mengungkapkan
Ku hanya bisa mengagumi dia dengan jarak yang tak terkira
Semoga kau tetap menjadi gadis berkerudung dan berkacamata

Yang dulu membuatku sangat jatuh cinta dan tergila-gila
Dengan siapapun lelaki pilihanmu asal kau bahagia, aku rela
Karena dengan itu ku benar-benar tunjukkan cintaku untukmu
Bukan hanya sekedar berucap lagi seperti dulu

Karya : Ismaiel Mohamed

Sumber dari artikel ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2014/10/puisi-cinta-gadis-berkerudung.html

Baca Selengkapnya ...

Tuesday, 23 September 2014

Puisi Perpisahan dan Persahabatan - Putih Abu-abu

Putih Abu-Abu

Alumnus XII IPA SMAN Paninggaran tahun 2009


Saat semua terbuka tentang sebuah rasa
Rasa yang mungkin paling bahagia dalam episode cerita kita
Mengukir kisah yang kadang suka maupun duka
Kisah kasih yang tak pernah kita lewatkan tanpa bersama

Tiada segala sesuatu yang mustahil bila kita hadapi bersama
Selalu berjalan dan berpacu menggapai cita-cita
Ada cemburu dan saling menjegal itu hal biasa
Saling menjegal untuk menjadi paling terbaik dan luar biasa

Masa putih abu-abu masa terindah bagiku selama ini
Disinilah aku mengenal persahabatan sejati
Dibumbui rasa cinta yang semerbak begitu manis dihati
Saat itulah satiap ku terjaga selalu ada sms selamat pagi

Sungguh ku ridu saat-saat bersamamu kawan
Kita kenakan seragam putih abu-abu seolah kita jagoan
Jagoan yang bukan hanya pamer kesombongan
Tapi membudayakan kesopanan agar tunjukkan kita benar-benar berpendidikan

Saat salah satu terjatuh kita topang sekuat tenaga dengan motivasi
Agar kita terbangun dan tetap berjalan bersama kembali
Berjalan bergembira sampai berlari mengejar matahari
Hingga suatu masa kita harus terpisah sendiri-sendiri

Kita hanya terpisah sementara
Suatu waktu kita akan kembali bersama
Kembali dengan megantongi bekal yang dapat mengguncang dunia
Kitapun akan menjadi saksi kebangkitan sebuah bangsa oleh generasi kita

Jangan pernah kalian lupakan aku kawan
Seperti aku yang tak pernah lupakan kalian
Kan kurindukan setiap kisah yang penuh kenangan
Biar menjadi cerita yang manis untuk anak cucu kita
Sebuah cerita yang sangat memberiku arti dalam kehidupan


Karya : Ismail Mohamad
Theme Song : Bondan Prakoso F2B - Kita Selamanya >> [DOWNLOAD HERE]...!!!
Sumber dari artikel ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2014/09/puisi-perpisahan-dan-persahabatan-puth.html

Baca Selengkapnya ...

Saturday, 6 September 2014

Puisi Cinta : Senyummu Adalah Puisiku

Senyummu Adalah Puisiku



Jemariku menari diatas kertas
Dengan imajinasi yang tak selalu terbatas
Tak peduli itu sebuah fantasi ataupun ilusi
Jemariku selalu bergerak membuat setiap bait puisi

Tahukah kamu ?
Karena ada bayang senyummu di imajinasiku
Senyum termanis dan terindah menurutku
Senyum yang dulu kutangkap sebagai sebuah keanggunan
Keanggunan wanita yang mampu membuat pria bergetar hatinya

Tapi maafkanlah aku hai sayangku
Saat dulu kumampu memilikimu dengan sepenuh hati
Aku malah berpaling darimu seolah hatiku mati suri
Aku menjadi congkak karena telah sanggup memilikimu
Dan kau memilih pergi demi kebaikanmu

Dengan penuh kesombongan aku merelakanmu
Kaupun menjadi milik pria lain
Saat itulah aku baru menyadari aku telah kehilanganmu
Tiada lagi senyum yang menyapaku

Hanya tinggal bayang senyummu yang membekas dalam lamunanku
Membekas penuh arti hingga menjadi puisi
Meskipun sakit dan perih terasa,
Tapi terima kasih karena senyummu pernah menemani hariku
Senyum yang dapat membahagiakan kisah hidupku

Aku mungkin bukanlah imammu dan tulang rusukmu bukan tercipta dari tulang rusukku
Tapi ku kan selalu berdo'a semoga kau bahagia dengan siapapun pendampingmu
Karena caraku mencintaimu adalah melihatmu bahagia
Daripada harus denganku dirimu tak bahagia

Karya : Ismaiel Mohamed

Sumber artikel ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2014/09/senyummu-adalah-puisiku.html
Baca Selengkapnya ...

Monday, 21 October 2013

Cerpen Kenangan : Senyum di Rintik Hujan Part I

Senyum di Rintik Hujan Part I


Rintik hujan ini mengingatkan akan hal paling indah dalam hidupku, tak terbayang saat itulah aku bertemu sejumput hangat senyuman darimu senyum yang mengembang manis memberi sapaan dan kubalas dengan senyumanku yang paling  manis menurut pandangku. Hingga tak sampai kuberkata dan menyapa hujanpun mereda, diapun bergegas pergi meninggalkanku kembali memberi senyum manisnya serasa mengucapkan kata perpisahan yang indah. Kurasakan yang tak pernah kurasakan hatiku bergetar dan mataku tidak mau lepas dari setiap detik senyumnya seperti kupu-kupu yang tak mau lepas membidik bunga yang cantik dan dipenuhi madu.

Waktupun tak lelah terus berputar dan hari selalu berganti tanpa heanti, ku selalu terbayang kelembutan senyumnya yang serasa memberi kebahagiaan tak terbatas, kebahagiaan seorang pangeran yang menemukan cinta sejatinya sungguh terasa manis semanis-manisnya. Andai saja waktu itu hujan tak berhenti, mungkin aku sudah jauh mengenalnya dan jauh lebih dekat dengannya. Seorang gadis dengan senyum termanisnya yang mampu membius hatiku, yang mampu menghentikan sebuah rintik hujan yang teramat deras, membuat suara bising hujan terasa seperti alunan lagu yang syahdu menciptakan suasana yang begitu romantis bagiku.

Tibalah hari itu sepulang kerja seperti biasanya aku menunggu bus untuk pulang di halte bus. Dengan hujan yang deras mengingatkan aku pada peristiwa manis itu, sedang nikmatnya menikmati lamunanku tiba-tiba aku menyium harum yang sama yang begitu lembut dan semerbak wangi, akupun segera mumutar kepalaku penasaran ingin melihat siapa disampingku. Serasa jantung berdetak kencang aliran darah lansung naik ternyata dia kembali dengan memberi senyuman manisnya. Dengan salah tingkah dan gemetar akupun berusaha membalas senyumnya, entah apa yang menyumbat pikiran dan mengunci lidahku sehingga terasa sulit sekali untuk menyapa serta berkenalan dengannya, tapi dengan sangat ku beranikan diri karena ku tak mau kehilangan kesempatan indah untuk bisa lebih mengenalnya.

Dengan nada gugup akupun mencoba menyapanya

"hai ka..ka..mu kok disini lagi?"

"loh kenapa? ini kan tempat umum jadi siapa aja boleh donk berada disini" kembali ia menjawab dengan nada sedikit kesal tapi serasa lenyap saat dia mengakhiri dengan senyum manisnya. Dan begitu bodohnya aku menanyakan hal seperti itu.

"oh.. maaf maksud aku kamu kok nunggu bus disini apa tempat kerjamu dekat sini?" akupun mencoba mengalihkan suasana dengan pertanyaan yang ringan

"iya, itu kantorku seberang jalan kelihatan juga kok dari sini, la kamu kerja dekat sini juga?"

"sama deket juga tapi kantorku tuh mall yang gede itu" dengan nada malu aku menjawabnya, perlu diketahui aku lulusan sarjana S1 jurusan tekhnik yang baru lulus jadi masih nyari kerjaan sembari nyari aku kerja di lapak komputer Omku di mall itu.

"wah seneng donk bisa belanja tiap hari, emang kamu kerja dibagian apa?"

"nggak kok, aku cuman disuruh nungguin lapak komputer omku. Eh dari tadi nanya belum kenalan kita, perkenalkan nama saya Revan, salam kenal" sambil menyodorkan tangan kepadanya aku ucapkan kata-kata perkenalan yang umum aja karena tidak tahu harus ngomong apa

"namaku marsha, salam kenal juga" sambil tertawa kecil mungkin dalam pikirannya formal sekali ini orang kaya orang penting, diapun menyodorkan tangannya yang halus untuk bersalaman dengan tanganku yang sedikit kasar

Kamipun mengobrol dengan asyik hingga tanpa terasa hujan sudah berhenti menari-nari diatas langit.

"hujan sudah reda nih tapi bus belum lewat" kataku sambil berharap jangan ada bus yang lewat dulu karena ingin rasanya kesempatan seperti ini tidaklah cepat berlalu

"iya nih belum juga ada bus yang lewat" jawabnya singkat seperti tidak fokus kepada diriku karena sedang asik menekan keypad handponenya

"daritadi sibuk terus nih sama handponya sampai akunya dilupain" sambil bergurau aku berusaha memecahkan keheningan

"hehe..iya nih maaf yah soalnya sms penting banget" diapun melihatku dengan tersenyum manis, senyum yang mampu meruntuhkan kokohnya benteng hatiku

"oh gakpapa kok. oh iya kamu punya obeng gak?

"nggak"

"punya kunci inggris gak?"

"nggak juga" jawabnya sedikit bingung dengan pertanyaan anehku

"tapi nomor hp punya kann?"

"haaa,apa?!!!" seketika dia tertawa karena berpikir gombalanku yang sudah garing sering banget di tv.

Diapun mengambil tissu dan bolpoin dan segera menuliskan nomornya dan bergegas pergi rupanya sudah ada sedan merah yang sudah datang menjemputnya dengan sopir seorang lelaki sangat tampan mebukakan pintu, sebelum dia masuk ke pintu mobil dia memberi isyarat jempol dan kelingking yang ditempel di kuping. Akupun paham bahwa dia menginginkan aku untuk meneleponnya, diapun bergegas pergi dengan sedan merah yang menabrak gerimis hujan itu bersama lelaki yang sangat tampan apa mungkin kekasihnya atau bahkan sopirnya pikirku sambil tertawa karena lelaki setampan itu tidaklah mungkin menjadi sopir. Ah tapi biarlah buspun sudah lewat akupun bergegas naik untuk pulang, sambil terus tersenyum sendiri membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi bisa berkenalan dengannya, seorang gadis yang senyumnya membayangi setiap hariku.

Malam yang begitu indah ktengok dari jendela tampak sinar rembulan yang penuh ditemani gemerlap bintang yang menambah indahnya di malam ini. Sedang melamun terlintas dipikiranku bahwa aku punya nomor telepone marsha

"ohh.. hampir saja lupa dimana ya tadi sore aku taruh tissue itu" Akupun mencari kesana kemari di tas yang aku pake tadi sore di saku baju

"aduuh..hilang nih kesempatanku untuk bisa lebih deket dengannya, mana belum tentu lagi bisa ketemu dengannya" sambil terus mencari tissue dengan sejumput tulisan nomor handpone seorang gadis manis.

Teringat aku di celana yang dipake tadi sore kalau aku menyimpannya disaku celanaku lansung aku bergegas ke kamar mandi karena celanaku sudah aku rendam. Aku geledah bak cucianku tak peduli malam itu begitu dinginnya terus ku cari celanaku sampai cucian yang aku rendam jadi berantakan kemana-mana

"aduh dimana ini kok belum ketemu sih celanaku, celana dimana kamu celana?" tanyaku konyol kepada celanaku  karena disaku itulah tersimpan tissue nomor hamdpone seorang gadis yang mungkin sudah lecek karena terlipat-lipat

***Bersambung

Karya : Muhamad Ismail

Sumber artikel ini : http://puisikaryaasli.blogspot.com/2013/10/cerpen-kenangan.html
Baca Selengkapnya ...

Thursday, 10 October 2013

Cerpen : Ketika Kemarin Memudar Part II

 Ketika Kemarin Memudar Part II
***
Aku nyaris tak berkedip menatap layar laptopku. Dan sejurus kemudian, sebuah senyum kelegaan, bercampur kebahagiaan dan kebanggaan tak terkira terpeta di bibirku.
Psikologi, UGM. Ya, aku lolos !
“Mama..aku ke UGM ma !!” teriakku masih enggan bangkit dari depan laptopku, masih ingin menatap pengumuman itu. Meski hanya sebaris kalimat. Namun kalimat yang membuncahkan sejuta kebahagiaan dalam hati.
“Drrtt..drrrttt...”
“Halo, gimana Fy ?” suara Alvin langsung menyapaku. Bisa ku tebak, ia juga sedang mendapatkan berita terbaiknya.
“UGM Vin, gue ke jogja..kampus biru hahaha..”
“Congrats yaa..”
“Makasih Alvin...lo sendiri gimana ?”
“Menurut lo gimana ?”
“Pasti lolos, iyakan ?”
“Hehehe..temen lo jadi calon dokter gigi nih Fy”
“Ahh Alvin, selamat ya selamat !! asik deh, entar gue bisa periksa gigi gratis..haha..”
“Woo..eh, ntar malem ada acara enggak ?”
“Enggak, kenapa ?”
“Entar gue ke rumah lo ya ?”
“Oke, gue tunggu, jam berapa ?”
“Jam tujuh mungkin, ya udah deh, sekali lagi selamat ya, awas jangan ikutan stres sama pasien lo entar..hahaha..”
“Si...”
Klik. Belum sempat aku membalas kata-katanya, Alvin telah terlanjur menutup telponnya. Hah, rasanya kebahagianku menjadi tambah berlipat ganda. Dan sekarang, aku malah menjadi mengira-ngira, untuk apa ya Alvin datang ke rumahku nanti malam. Adakah hal yang ingin ia sampaikan ?
Ahh, aku jadi penasaran.
*
Dan ia berdiri di hadapanku sekarang, terlambat dari waktu yang ia bilang. Ini sudah jam sembilan malam, sudah sejak dua jam lalu aku menunggunya, ia datang dengan wajahnya yang babak belur. Tanpa perlu bertanya, aku juga mengerti, apa yang terjadi dengannya.
Tiga tahun bersahabat. Dan satu tahun duduk bersama, membuat aku sangat mengerti dengan apa yang sering Alvin alami.
“Ada apa Vin ?”
Dia tersenyum lirih ke arahku. Hanya tersenyum di tempatnya, tanpa melanjutkan langkahnya. Dia berhenti, dan akhirnya aku yang maju. Menujunya yang berdiri di halaman rumahku.
“Vin, ada yang bisa aku bantu ?”
Ia langsung memelukku. Untuk alasan yang aku mengerti tapi tidak ku ketahui sepenuhnya. Aku melingkarkan tanganku di punggungnya, menepuk-nepuknya, mencoba menghibur speerti layaknya seorang sahabat.
Untuk beberapa saat, kami menelan waktu dalam pelukan ini. Tidak peduli pada ketukan detik yang terpacu cepat. Tangan Alvin semakin memelukku erat. Aku sama sekali tidak memberontak atau risih karenanya. Aku ingin menjadi orang yang menenangkannya, dan itu aku sekarang.
Nada-nada alam dari ketukan air yang menyentuh tanah dalam hujan yang tiba-tiba, mengguyur kami, yang tetap saja, saling berpelukan satu sama lain.
Tubuhku mulai basah, rasa dingin mulai merasukiku. Tapi aku benar-benar tidak ada niatan untuk meminta Alvin melepaskan pelukannya. Ada yang bergetar dalam hati ini, sesuatu yang tidak aku kenal, sesuatu yang baru namun terasa begitu nyata. Teduh dan hangat, bahkan meski gemericik hujan semakin deras tertumpah dari langit nan membentang.
Apa yang terjadi padaku ?
“Fy..” untuk pertama kalinya, sejak kedatangannya, akhirnya bibir itu terbuka.
“Ya ?”
“Gue sayang sama lo..”
*
Hiruk pikuk yang terjadi di stasiun ini, sama sekali tidak menyurutkan air mataku untuk mengalir sederas-derasnya. Tinggal dua puluh menit lagi, sebelum kereta dengan gerbong abu-abunya itu akan membawa tubuhku ke Jogja, kota dimana aku akan menapaki langkah baruku.
“Fy..” Shilla terisak di hadapanku, membuat aku juga terus menangis.
“Ahh Shilla..jangan bikin gue berat dong..” aku kembali memeluk sahabatku itu. Ternyata berpisah tak semudah kelihatannya.
Sahabat adalah kepingan jiwa, terasa seperti mati rasa ketika harus meninggalkannya.
“Fy, take care ya..” ujar Rio tersenyum ke arahku, dan menepuk kepalaku pelan. Aku hanya bisa mengangguk. Ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan sementara ini. Ketidak hadirannya.
Alvin, entahlah ada dimana ia saat ini.
“Alvin marah ya Yo sama gue, karena gue nolak dia ?” tanyaku pelan, tidak melihat Rio, melainkan melihat ke arah pintu masuk stasiun, berharap dapat menemukan sosoknya sedang berjalan ke arahku.
“Gue juga enggak tahu, gue juga enggak bisa ngehubungin dia dari tadi pagi, tapi gue rasa Alvin enggak akan marah sama lo..”
“Tapi dia enggak datang sekarang..” desahku, yang entah mengapa harus kecewa.
“Fy, ayo naik, sebentar lagi keretanya berangkat..” mama mengingatkanku. Aku menghela nafas, ingin menahan waktu, dan menunggu Alvin untuk datang, meski itu tidak mungkin bisa.
Masih dengan air mata berurai, aku memeluk Shilla lagi, hanya saja lebih singkat kali ini, memeluk Rio, dan kemudian berbalik mengikuti mama yang berjalan di depanku. Sebelum naik, lagi-lagi aku menyempatkan diri untuk menoleh ke titik itu, tempat yang aku pandang dengan bias harap bercampur nanar. Ia tetap tidak hadir, sama sekali tidak.
“Nanti kan kalau liburan kamu juga bakalan pulang Fy, udah ah nangisnya..” tegur mama, setengah menasihati. Aku hanya tersenyum.
Kereta mulai berjalan. Perlahan, meninggalkan kota ini, meninggalkan gedung-gedung beton pencakar langit yang sering ku lihat setiap hari. Meninggalkan semuanya.
Dan ia tetap tak nampak. Menghilang. Benar-benar menghilang.
***
Reflek, aku langsung menghapus setitik air mata yang jatuh tanpa kendaliku. Mengingat tentangnya selalu membuatku seperti ini. Aku berdiri dari bangku, yang dulu merupakan bangkuku, untuk sekejap, aku menoleh menatap kursi kosong yang ada tepat di samping kananku. Tempatnya dulu duduk.
Alvin, ada dimana kamu ?
Ya, tiga tahun berlalu, dan aku tetap tidak mengetahuinya. Dan sepertinya memang tidak ada yang mengetahuinya. Rumahnya pindah. Nomornya tidak lagi aktif, sehari setelah keberangkatanku ke Jogja waktu itu.  Ia lenyap, tak bersisa.
Dan aku ?
Yang terlalu bodoh ini. Baru menyadari satu hal. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.
Tidak ingin terlalu lama ada disini, aku buru-buru beranjak pergi. Lagipula, aku telah membuat janji dengan Rio dan Shilla untuk makan siang bersama.
Di sebuah kafe, di bilangan tebet. Aku menunggu kehadiran mereka berdua. Sesaat ku amati sekelilingku, semua telah berubah. Kota ini berubah terlalu banyak. Dan sayangnya aku tidak di ajak serta dalam perubahan itu. Aku terbenam dalam cerita masa lalu yang aku sesali.
Hidup itu pilihan, termasuk juga sebuah penyesalan.
“IFY !!..ahhh gue kangen !” Shilla langsung menghambur, memelukku, sementara Rio berjalan di belakangnya.
“Gue juga !! haha..liburan semester kemarin gue juga balik ya..”
“Hei Yo, lo tambah item aja ..haha..” sambungku, sambil menjabat erat tangan Rio.
“Iya nih, gue abis pkl Fy..”
“Kemana ?”
“Chevron di Minas..”
“Sumpah lo bisa pkl disana ? ahh keren banget ! ehem..sahabat gue mau jadi tukang minyak, entar kalau udah tajir jangan lupa sama gue, oke..”
Rio dan Shilla hanya terkekeh menyaksikkan tingkahku. Dua sahabatku ini, bisa dibilang adalah contoh pasangan yang wajib ditiru, berpacaran sejak kelas dua sma, berlanjut hingga kuliah sekarang meski tol cipularang memisahkan mereka, namun keduanya tetap saja bisa menjaga kekompakkan untuk menjaga hubungan mereka.
Dan layaknya sebuah persahabatan, kami bertiga mulai asik menceritakan setiap detail pengalaman yang telah kami lalui, apapun itu. Meski terasa ada yang kurang, karena ia tidak ada disini.
Alvin, bisakah kamu kembali ?
“Yo..elo beneran enggak tahu, Alvin ada dimana ?” tanyaku pelan. Setiap bertemu, aku selalu menanyakan ini. Dan bisa saja kan, Rio mulai jengah dengan sikapku ini.
“Fy..gue sama Rio selalu berusaha buat nyari keberadaannya Alvin, kita juga mau ketemu sama dia, tapi ya kaya yang lo lihat, dia enggak meninggalkan jejak sedikitpun buat kita lacak..” Shillalah yang menjawab pertanyaanku. Dan aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar jawabannya.
Ia seperti menyatu dengan udara, yang menghilang tanpa jejak, tapi ke alpaannya begitu hebat terasa.
***
Seminggu terakhir, sebelum aku kembali ke Jogja. Rio sudah kembali ke Bandung dan Shilla sedang ada acara di kampusnya. Tidak ada kerjaan di rumah, aku memutuskan untuk berjalan-jalan, sekedar menyegarkan mata.
Aku memasuki sebuah mall di jantung ibu kota, gedungnya yang unik, seperti balok-balok kotak yang miring serta warna dindingnya yang begitu ceria dan berwarna-warni. Berjalan sendirian tanpa tujuan, membuatku hanya mengelilingi tempat ini tanpa jeda.
Hingga langkahku terhenti, dan tubuhku bergetar hebat.
Aku melihatnya. Dan aku yakin itu dia.
Alvin.
Tanpa mengulur waktu, aku mengejarnya, membiarkan wedgesku menghentak lantai dengan brutal. Tak menghiraukan orang-orang lain yang menatapku bingung.
“Alvin..” dan tanpa malu-malu, aku mencekal pergelangan orang itu. Membuatnya menoleh ke arahku.
“Ya..”
“Vin, ini aku, Ify..”
Dia tersenyum, sesuatu yang membuatku tambah yakin bahwa ini dirinya. “Maaf, tapi gue enggak kenal sama lo..”
Aku membeku. Ku lepaskan tanganku dari tangannya, aku berjalan mundur, tubuhku serasa limbung. Hingga akhirnya tanpa aku sadar, aku menabrak orang lain di belakangku. Dan aku terpaku, menatapnya. Suara keramaian yang tadi sangat nyata, kini malah seperti dengungan memekakkan telinga. Aku merasa sendiri, dan sama sekali tidak mengerti.
***
Entah sudah untuk keberapa kalinya. Aku kembali mengamati wajah laki-laki di depanku ini lekat-lekat. Berjuta-juta persen, aku yakin ia Alvin, dan ia memang Alvin, ia mengaku itu. Tapi bukan Alvinku, ia tidak mengenaliku. Dan aku tidak mengerti kenapa.
“Kamu beneran enggak kenal sama aku ?” tanyaku lagi. Lebih dari yang kesepuluh kalinya.
“Harus gue jawab berapa kali sih, gue sama sekali enggak kenal sama elo, maaf..”
Aku tersenyum lirih. Entah untuk alasan bodoh macam apa, tapi aku memintanya untuk duduk bersamaku di sebuah restaurant. Aku masih tidak percaya, sama sekali tidak percaya. Aku rasa hanya ada satu Alvin, dan itu Alvinku.
“Tapi lo perlu tahu satu, gue ini seorang penderita amnesia..”
“Vin..”
“Dan gue enggak ada niatan sama sekali, untuk minta ingatan gue kembali lagi”
Seperti ada Zeus yang sedang menghunuskan petirnya ke dadaku, aku tidak bisa berkata-kata untuk apapun. Mati rasa. Tidak mengerti, mengapa orang yang sekian tahun ini ingin aku temui, terasa begitu berbeda dan tidak aku kenali, bahkan tidak mengenaliku.
“Ke..kenapa..?” tanyaku terbata.
“Kata beberapa orang, masa lalu gue enggak begitu bahagia, gue seorang anak broken home yang sering di hajar sama bokap gue sendiri. Tapi sekarang, gue udah tinggal sama nyokap, gue lebih bahagia di kehidupan kedua gue ini..itu sebabnya gue enggak mau tahu tentang yang dulu..”
“Tapi aku sahabat kamu di masa lalu, aku sayang sama kamu” ujarku lirih, sambil menunduk, tidak berani menatapnya, tidak ingin menangis di depan orang asing yang benar-benar tidak aku kenali sama sekali.
“Maaf kalau gue ngecewain lo, tapi ini pilihan gue. Dan kalau apa yang lo bilang tadi benar, kalau kita memang sahabat, ada baiknya, elo nerima keputusan gue..”
Aku mengangkat wajahku, menghapus air mata yang terlanjur menetes, dan menatapnya. “Hai Alvin, boleh kita kenalan ? aku Ify..” sambil tersenyum, aku mengulurkan tanganku.
“Boleh..gue Alvin..” balasnya sambil tersenyum juga, dan menerima uluran tanganku.
Dan kehangatan tangannya masih sama seperti dulu.
Seperti dulu.
*** bersambung ke
Karya & Sumber : Jejak-jejak Pena
Baca Selengkapnya ...

Cerpen : Ketika Kemarin Memudar Part I

 Ketika Kemarin Memudar

Aku mendesah perlahan, ketika nama itu, lagi dan lagi serasa berputar di kepalaku, memenuhi pikiranku hingga sesak, mengajak aku melayang menuju hari-hari yang telah terlewati. Sampai kapan ini akan berhenti, dan membiarkan aku sendiri. Rasa kangen yang selalu menelusup di balik kulitku dan memelukku erat, sesungguhnya sangat-sangat menyiksa dan membuatku tidak nyaman.
Ini tentangnya dan masih tentangnya, seperti biasa. Ia yang selalu membuatku rapuh dan lemah. Ketika mengingat senyumnya, ketika merasakan sentuhannya, ketika ia datang dalam mimpi-mimpi malam, maka saat itu juga, air mataku dapat tumpah, tanpa terbendung sedikitpun.
Satu..dua..tiga..iya ini tahun ketiga. Tahun ketiga dimana kamu meninggalkan aku dengan tiba-tiba, tanpa pamit, tanpa pesan, tanpa pernah aku mengerti kamu dimana dan kenapa. Tapi rasa ini tidak pernah selesai. Selalu saja mengenang bahkan berharap, masa itu akan kembali, setidaknya, kamu akan datang, ke tempat dimana kita pernah bersama-sama, dan menghabiskan waktu.
Dan tempat ini. Tempat yang aku pijaki sekarang. Kelas kosong, berhias dua papan tulis yang menggantung diam di sana, dan deretan bangku serta meja yang menatapku, seolah bertanya, apa yang sedang aku lakukan disini ?
Aku mendekat. Meja nomor tiga dari depan, di barisan sebelah kiri. Seandainya kamu ada disini, ingatkah kamu, ini meja kita. Dengan ujung-ujung jariku, aku merabanya, meski yang kurasakan hanya sentuhan debu-debu kotor. Tapi tetap saja, ia saksi bisu kita, saksi bisu ketika semua cerita tertoreh dan kemudian luruh dalam hidupku.
***
Tiga tahun lalu.
Suasana begitu hening, amat sangat hening. Tangan-tangan saling bertaut satu sama lain, mencoba menenangkan dan saling mentransfer energi positif satu sama lain. Tinggal beberapa menit lagi, dan segala perjuangan tiga tahun ini akan segera mencapai garis akhir. Dan tentu saja semua yang ada di ruangan ini berharap, akhir yang bahagia.
“Selamat pagi siswa-siswi yang bapak cintai dan banggakan..”
Sapaan Pak Wisnu, kepala sekolah kami, sama sekali tidak kami hiraukan. Hanya sedikit yang menjawab, sementara sisanya memilih diam, melantunkan doa-doa penenang dalam hati. Begitu juga denganku.
“Baiklah, karena bapak sudah melihat wajah-wajah tegang di sini, akan bapak umumkan langsung saja..”
Suara degup jantung kencang nyaris tak beraturan, secara ajaib, terdengar dengan jelas memenuhi sudut-sudut aula.
“Dengan bangga bapak sampaikan, angkatan dua puluh delapan, baik yang di penjurusan ipa ataupun ips, lulus seratus persen !”
“Alhamdullilah !!”
“WOII..GUE LULUS !!”
“Njir, gue anak kuliah sekarang !!”
“AHHH LULUS..KITA LULUS !!!”
Segala macam teriakan, ungkapan kebahagiaan langsung bergema dimana-mana. Ekspresi-ekspresi yang tidak mampu di lukiskan hanya dengan kata-kata biasa. Setelah tiga tahun berjibaku dalam putih abu-abu yang memang abu-abu, setelah hampir satu tahun belakangan ini kami semua larut dalam beribu-ribu soal, pelajaran tambahan, try out, hingga bimbingan belajar. Maka hari ini, dengan bangga aku katakan, aku baru saja menutup satu lagi bukuku, untuk kutapaki cerita yang baru, tidak lagi hanya sebagai siswa biasa, tapi telah menjadi maha.
“Fy..lulus Fy, kita lulus Fy..” Shilla berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Bagian dari tangisan haru.
“Iya Shil, lulus, kita anak kuliahan sekarang !” sambungku bangga, dan langsung memeluknya. Kami berdua berpelukkan erat, sangat erat. Karena di balik kebahagiaan ini, kami juga mengerti, perpisahan tampak nyata menatap langkah di depan kami.
“Ehem..”
Aku dan Shilla saling melepaskan pelukan satu sama lain, kami kenal betul, suara siapa yang mengganggu euforia kami berdua. Tepat di hadapan kami, berdiri Alvin dan Rio, yang juga sedang menyunggingkan senyum kebahagiaan ciri khas mereka masing-masing. Dan tanpa aba-aba dari siapapun, aku dan Shilla, langsung kompak memeluk laki-laki di hadapan kami itu. Aku memeluk Alvin, sementara Shilla memeluk Rio.
Bukan. Alvin bukan pacarku. Dan jangan tanya kenapa, kenapa saat itu aku memilih untuk memeluknya. Itu sungguh-sungguh tanpa alasan. Bukan juga karena ia teman sebangkuku.
Karena bila diingat, sepertinya tubuhku sendirilah yang ingin mendekap tubuhnya. Entah untuk alasan apa.
*
Kesenangan pengumuman kelulusan itu, tidak berlangsung lama. Aku dan teman-teman seangkatanku mulai sibuk lagi larut dalam persiapan kami semua untuk menghadapi snmptn. Gerbang keputusan yang akan menentukan nasib kami selanjutnya.
Dan aku begitu semangat mengerjar impianku. Menjadi seorang yang bisa berguna di masyarakat adalah hal yang menjadi prinsipku. Oleh sebab itu, aku membulatkan tekadku untuk bisa masuk dalam jurusan psikologi. Aku harus bisa !
Satu-satunya penghibur yang terselip dalam sederet kegiatan detik-detik menjelang snmptn, adalah prom night. Aku akan datang bersama Alvin. Dia mengajakku kemarin, dan tanpa pikir panjang aku tentu saja langsung mengiyakannya. Dan kalau ada yang bertanya lagi apa alasanku, aku masih belum benar-benar mengerti.
Suara deru mesin mobil terdengar dari depan rumahku, buru-buru aku membuka pintu, untuk melihat siapa yang datang.
“Alvin ? naik mobil ?” tanyaku bingung, belum pernah tiga tahun ini aku berteman dengannya, melihat Alvin menyetir mobil, biasanya ia selalu setia dengan motor bebek hitamnya.
“Hehe..minjem bokap, abis masa gue mau jemput cewek cantik naik motor, kasian di elonya lah..mana lo pakai dress gitu lagi..” ujarnya sambil menunjukku.
“Ohh hehe..ya udah, ayo masuk, gue ambil tas dulu di kamar..” ajakku sambil menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumahku. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, akhirnya aku dan dia bergegas untuk pergi ke prom night di sekolahku.
Tanpa janjian, aku dan Alvin tampak begitu serasi. Aku menggunakan tube dress berwarna hitam dengan cutting asymetris di bagian bawahnya, dan Alvin tampak santai di balik kemeja putih dan blazer hitamnya yang ia gulung hingga ke siku.
“Lo udah jago kan Vin nyetirnya ?” tanyaku polos, tepat ketika Alvin mulai menghidupkan mobil dan menggeser persenelingnya.
Ia terkekeh, dan menatapku. “Kalau gue enggak bisa nyetir, enggak akan deh gue bawa anak orang naik mobil malam-malam kaya gini..”
“Ya kan, gue masih mau hidup panjang Vin..hehe..masih mau ikutan snmptn nih gue..”
“Snmptn daftar apa aja ?”
“UI sama UGM..hehe..”
“Hmm..tahu deh yang pinter, semoga jebol salah satunya yaa..” ujarnya sambil mengelus rambutku pelan. Dan aku sangat menikmati belaiannya ini.
“Amin !! doain gue ya Vin..”
“Selalulah Fy..”
“Makasih..”
“Seandainya lo masuknya ke UGM, berarti lo bakal pergi dong dari Jakarta ?”
“Ya iyalah Vin, masa iya gue mau kuliah jarak jauh, mana bisa..” tukasku, entah polos atau bodoh. Yang jelas, Alvin kembali terkekeh.
“Haha iya-iya..maksud gue, err....berarti lo bakal ninggalin gue, ninggalin Shilla, Rio..”
“Rio kan mau ke ITB, elo juga mau ke UNPAD kan ? kita semua pergi kali dari Jakarta kecuali Shilla..”
“Lo percaya sama long distance nggak Fy ?”
Aku mengerutkan keningku mendengar pertanyaan Alvin. “Kok elo enggak nyambung sih Vin ?”
“Hahaha..iyaya ? lupain aja deh..” kilahnya, kemudian terdiam, dan menatap jalan di depannya. Dan akupun begitu.
Anggaplah saat  itu aku tidak peka, tapi percayalah, aku benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaannya saat itu. Dan di tahun-tahun ke depan, itu seperti sebuah kerikil kecil yang menyeret penyesalan dalam hidupku.
Tidak begitu banyak hal penting yang terjadi malam itu, yang aku ingat hanyalah, sepanjang prom night aku dan Alvin terus berdansa berdua. Tanpa ikatan, di balik persahabatan kami, tanpa kata-kata, aku dan dia menikmati semuanya.
Sekeping kenangan yang ternyata tertoreh dalam di kemudian hari.
*** bersambung ke 
Karya & Sumber : Jejak-jejak Pena
Baca Selengkapnya ...
Designed By SEO Blogger Template Modify by SOB Design